AlertaEditor's PickSlight

Seberapa Siapkah Manado Melawan Covid-19?

Akhir Maret, sebuah riset berjudul “Siapkah Manado Melawan Corona?” ditulis oleh sejumlah peneliti Shaad Reserach and Develompent: Haryanto, Nono Sumampow, Alex John Ulaen, dan Donny Lelono, beredar dibeberapa media online. Para peneliti Shaad ini menyatakan bahwa tujuan mereka menulis artikel tersebut bukan untuk sumbang saran dari pandangan medis, namun menempatkannya pada konteks analisis non-medis.

Lebih jelas mereka melanjutkan, tujuan yaitu memberi sumbangsih agar masyarakat lebih mawas diri, melihat jernih kasus ini dengan eagle-eye, serta mahir dalam mengambil keputusan, baik dari kebijakan maupun keputusan personal, misalnya kesiapsiagaan untuk bepergian ke daerah tertentu atau keluar rumah.

“Pendalaman fokus kami dari artikel itu, pada aspek statistika demografis untuk melihat kasus Covid-19 dalam berbagai skala atau perbandingan, yakni dari global hingga menyusut ke kota Manado,” tulis mereka pada artikel tersebut.

Sejak Desember tahun lalu, Covid-19 ini menjadi keresahan dan isu genting se-dunia. Tiap negara pun memiliki pendekatan dan kebijakan masing-masing menyikapi wabah tersebut dari sudut kondisi ekonomi dan situasi sosial.

Sementara itu, data kasus Covid-19 secara global dari World Health Organization (WHO), kini jumlah pasien positif sudah mencapai 697.244 dengan tingkat kematian mencapai 33.257 pasien atau 4,77%. Angka tersebut lebih rendah sekitar 5% dibanding wabah SARS pada November 2002-July 2003, yang memiliki tingkat kematian 9,6% se-dunia, Selasa (31/3).

“Perlu disadari bahwa wabah ini masih berlangsung, sehingga data tersebut masih berubah-ubah,” tulis peneliti Shaad.

Sejak awal China merupakan pusat pendemi virus corona ini dengan angka kematian 81 ribu. Kini bergeser ke Amerika dengan kasus sampai 155 ribu selama seminggu ini, diikuti Italia, Spanyol, China, lalu Jerman.

Sementara inipun sebanyak 204 negara telah dihantam coronavirus melewati data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yakni 195 negara. Indonesia sendiri merupakan negara dengan tingkat kematian tertinggi.

“Sekali lagi tingkat bukan angka, penekanan ini untuk menghindari penafsiran yang menakutkan,” jelas mereka.

Indonesia pun pernah menjadi negara tertinggi di dunia lewat nilai 8,33% melewati Italia pada beberapa hari lalu. Tentu ada penilaian berbeda dibandingkan tiap negara terdampak tertinggi, seperti China, Italia dan kini Amerika Serikat.

Penilaian tersebut bukan hanya dari aspek kuantitatif medis, namun berbagai aspek lainnya, yakni geografis, demografis, struktur ekonomi, sistem pengambilan kebijakan, teknologi yang digunakan, sistem perawatan kesehatan, transportasi dan mobilitas penduduk antar negara serta di dalam daerahnya (ini termasuk jasa dan pariwisata), serta berbagai aspek lain.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPD) melaporkan, ada 1.414 kasus terkonfirmasi, 1.217 dalam perawatan (86,06 %), 75 kasus dinyatakan sembuh (5,30%) dan 122 meninggal (8,62%). Sejauh ini 31 provinsi pun telah terpapar dari 34 provinsi se-Indonesia dan hanya menyisakan 3 provinsi, yakni Bengkulu, Gorontalo dan NTT, Senin (30/3).

Jakarta merupakan wilayah tertinggi dengan 698 kasus dengan angka kasus 49,36% se-Indonesia dan terus diikuti Jawa Barat (180 atau 12,72%), Banten (128 atau 9,05 %) kemudian Jawa Timur (91 atau 6,43%), Jawa Tengah (81 atau 5,72%), Sulawesi Selatan (50 atau 3,53%), Bali (19 atau 1,34%) kemudian Yogyakarta (18 atau 1,27 %).

Dilihat dari perimeter atau radius berdasarkan geografi kepulauan, bahwa 84,55% keseluruhan kasus yang terkonfirmasi ada di Pulau Jawa dan sisanya berada di luar pulau Jawa. Sementara jika membuat perimeter berdasar geo-administratif, maka sekitar 71,13% kasus ada pulau Jawa bagian Barat yang meliputi provinsi Jakarta, Jawa Barat dan Banten.

Shaad memperkirakan, jika pemerintah menerapkan lockdown karena wabah Covid-19 ini sudah gawat, sangat mungkin diterapkan di setiap wilayah pulau Jawa. Namun, adanya perpindahan dari perbandingan presentase bila kita membandingkan data tersebut dengan data sebelumnya pada 26 Maret dari BNPB.

Shaad menyimpulkan dari sudut pandang tersebut, bahwa secara nasional dan lewat isolasi sebaran statistikal berdasar geografis, kondisi semakin genting dan luasan Covid-19 semakin lebar.

Sementara di Sulawesi Utara (Sulut) jika dilihat, masih memiliki persentase yang relatif kecil dibandingkan kasus nasional. Data menunjukkan bahwa sejak awal diumumkan angka pasien positif belum beranjak dari 2 ataupun 3 pasien positif dengan konfirmasi pasien sembuh atau negatif setelahnya, Sabtu (14/3).

Sedangkan data per tanggal 30 Maret ada 2 pasien yang dinyatakan positif atau sekitar 0,14% dari keseluruhan kasus nasional dan 1 pasien telah dinyatakan sembuh serta belum ada konfirmasi kasus kematian diakibatkan wabah Covid-19 ini.

“Sejauh ini presentase di Sulut menunjukkan cukup baik, sekali lagi sejauh ini, namun bukan berarti kita harus angkuh,” kata peneliti Shaad.

Di lain sisi, jika merujuk data stastik secara nasioanal per provinsi pada bagian sebelumnya, adanya kecenderungan proses perpindahan atau pelabaran penyebaran kasus wabah coronavirus. Sehingga perlu juga memperhatikan yang mendasari, yaitu mobilitas penduduk.

Dalam kasus ini diakibatkan dari jalur transportasi, terutama udara dan laut.

Para peneliti menjelaskan, jika kita mengasumsikan bahwa suatu provinsi ‘zona merah’ di Indonesia adalah yang memiliki kasus di atas 1% (atau sekitar 14 kasus positif) dari kasus nasional, maka Sulut setidaknya memiliki 4 jalur penerbangan langsung dari wilayah-wilayah tersebut, yaitu Jakarta (9 penerbangan langsung ke Manado/hari), Jawa Timur (Surabaya 1 penerbangan langsung ke Manado/hari), Sulawesi Selatan (4 Penerbangan langsung ke Manado/hari), Kalimantan Timur yang sejauh ini memiliki 17 kasus atau 1,20% kasus dari proporsi nasional (Balikpapan 1 penerbangan langsung ke Manado/hari) dan Bali (Denpasar 1 penerbangan langsung ke Manado/hari).

Selain itu, tiap provinsi yang telah terpapar dan memiliki jalur penerbangan langsung ke Manado adalah Maluku Utara (1 atau 2 Penerbangan langsung ke Manado tergantung hari) dan Papua Barat (Sorong, 1 penerbangan per hari), dimana propinsi Papua telah melakukan local lockdown dan meniadakan jalur transportasi udara dan laut.

Para peneliti beranggapan bahwa jalur transportasi yang perlu diperhatikan adalah pelabuhan Bitung dan juga Amurang, yang sebelum berlabuh akan menyinggahi tiap wilayah dalam provinsi yang terpapar.

Lanjut mereka, perlu pula memperhatikan jalur darat yang juga berpotensi menyebarkan wabah Covid-19, seperti jalur Bus dari Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tengah yang memiliki terminal di Malalayang, termasuk juga jalur-jalur darat lewat ‘taxi-taxi gelap’.

Sementara itu, dalam simulasi terkait kondisi genting di Sulut, para peniliti Shaad mengkhawatirkan bakal terpukulnya kondisi ekonomi dan ketersediaan pangan yang memadai.

“Tentu pasti karena seluruh dunia mengalami keterpukulan kondisi ekonomi, tak terkecuali Sulut,” tulis mereka.

Dalam sudut pandang ini, dapat juga berarti suatu cara bagi Sulut untuk memperhitungkan kekuatan ekonomi hingga melewati masa sulit ini, yaitu setidaknya lewat menghitung kekuatan dalam kondisi konsumsi kebutuhan primer semata secara umum.

Berdasarkan laporan kajian ekonomi regional 2019 terakhir dari Bank Indonesia (BI), melalui sudut pandang data struktur ekonomi Sulut dari sisi pengeluaran, jika diasumsikan terganggu atau macetnya gerak Impor dan net-ekspor antar daerah, serta produksi ekspor ‘tertahan’ dan akhirnya menjadi komoditi konsumsi internal, maka Sulut mengkonsumsi lebih dari 80% kebutuhannya sebagai akibat produksi internal.

Para peniliti Shaad pun melihat dari sektor Lapangan Usaha Sulut, yang paling mungkin mengalami pukulan terdalam adalah sektor transportasi dengan angka presentasi (11,20%), Industri (9,6%) dan Perdagangan (12,15%).

Sederhananya, Sulut masih ditopang hampir 70% sektor lapangan usaha yang lain dimana topangan terbesar berasal dari sektor Pertanian (20,95%); serta 9 sektor lainnya (17,86%) serta Administrasi Pemerintah (7,99%). Artinya, kekuatan ekonomi kita cukup dapat bertahan dalam kondisi subsisten, bahkan jika terjadi lockdown atau katakanlah karantina wilayah sendiri ataupun tertutupnya suatu hubungan dengan wilayah-wilayah lain.

Lantas bagaimana dengan Manado?

Pada bagian ini para peneliti menyajikan data demografis yang memiliki hubungan dengan bidang kesehatan di Kota Manado, terutama dengan penekanan-penekanan populasi yang terhubung langsung dengan situasi epidemi-pandemi atau penyakit menular (terutama kepadatan penduduk), fasilitas kesehatan dan penyakit yang diderita. Basis yang mereka gunakan adalah data BPS tahun 2019.

Jika mengandaikan Covid-19, merupakan virus yang potensial berjangkit melalui ‘kontak’ atau ‘sentuhan’ baik langsung maupun tidak langsung, maka kepadatan penduduk menjadi relevan disini. Jumlah penduduk Manado ada pada angka sekitar 530 ribu dan dengan luas wilayah sekitar 157 km2, maka kepadatan penduduk kota ini mencapai 3.412 jiwa/km2. Sementara Jakarta, sebagai wilayah terpapar paling parah ada pada angka sekitar hampir mencapai 16.000 jiwa/km2.

Dalam penjelasan mereka, jika rasio dalam skala kota dibandingkan dengan Jakarta, sehingga akan dibulatkan menjadi 1 berbanding 5. Artinya, dalam satu luas ruang yang sama, katakanlah ruang itu sebentuk kamar, maka dalam kamar tersebut akan diisi oleh 1 orang di Manado dan 5 orang di Jakarta. Dalam artian kebijakan social atau physical distancing, Manado memiliki keuntungan dibandingkan Jakarta, terutama pada arti ‘kontak’ dengan sesama manusia ataupun secara tidak langsung terutama melalui barang tertentu dimana virus itu menempel.

Tetapi, pada satuan administratif lebih kecil atau spesifik, misalnya kecamatan, rasio kepadatan penduduk ini tidak selalu sama. Luas wilayah menunjukkan, Mapanget merupakan kecamatan terbesar (49,75 km2).

Kemudian berturut-turut diikuti Bunaken (36,19 km2); Malalayang (17,12 km2); Bunaken Kepulauan (16,85 km2); Paal Dua (8,02 km2); Wanea (7,85 km2); Tikala (7,10 km2); Singkil (4,68 km2); Tuminting (4,31 km2); Wenang (3,64 km2); dan Sario (1,75 km2). Data tersebut berkorelasi secara langsung dengan kepadatan penduduk, yang berturut-turut terdiri dari: Sario (17.009 jiwa/km2); Tuminting (14.660 jiwa/km2); Singkil (12.793 jiwa/km2); Wenang (11.517 jiwa/km2); Wanea (9.713 jiwa/km2); Paal Dua (7.207 jiwa/km2); Tikala (5.082 jiwa/km2); Malalayang (4.535 jiwa/km2); Mapanget (1.210 jiwa/km2); Bunaken (732 jiwa/km2); dan terakhir Bunaken Kepulauan (435 jiwa/km2).

Melalui data di atas, Shaad mengasumsikan situasi infeksius dalam kondisi pandemi atau epidemi adalah lewat kontak dari penderita baik langsung maupun tidak langsung, maka wilayah paling padat merupakan ruang paling potensial untuk terjadi kontak antar manusia.

Situasi ini terjadi karena ruang hidup antar manusia memungkinkan mereka lebih berdekatan satu sama lain. Sementara, kepadatan penduduk yang lebih longgar memiliki potensi infeksius kontak antar manusia lebih kecil. Lewat sudut pandang tersebut, dapat diketahui bahwa Sario adalah kecamatan dengan potensi infeksius tertinggi antar manusia, dimana kepadatan penduduk di wilayah ini bahkan lebih padat dari rata-rata kepadatan penduduk DKI Jakarta.

Kemudian diikuti sampai wilayah paling terkecil. Sementara, lewat asumsi tersebut, suatu ruang hidup yang lebih longgar tingkat kepadatannya memiliki potensi terpapar lebih ringan, dimana Kecamatan Bunaken Kepulauan adalah yang paling kecil potensinya dari sudut pandang ini.

Jika memperhatikan juga pernyataan medik bahwa Covid-19 dapat diperparah karena adanya penyakit penyerta, terutama yang berhubungan dengan paru-paru atau pernafasan, maka kita dapat melihat kecenderungan 10 besar penyakit yang diderita oleh warga kota Manado berdasarkan data statistik tahun 2018.

Tercatat ada 97.544 kasus penyakit dengan 10 besar keluhan, yakni Infeksi saluran pernapasan akut (sebesar 35,33% atau setara 34.460 kasus), hipertensi atau tekanan darah tinggi (16,61%), gastritis atau peradangan dinding lambung (10,08 %), penyakit lain pada saluran pernapasan (8.04%), penyakit pada sistem otot dan jaringan pengikat (7,01%), dermatitis atau peradangan pada kulit (6,81%), penyakit kulit alergi (6,44%), diabetes melitus (4,02%), tonsilitis atau radang amandel (3,02%), dan diare (2,66%).

Dengan memperhatikan data tersebut, para peneliti mengetahui bahwa faktor resiko penyakit yang langsung berhubungan dengan sistem pernapasan menempati posisi tertinggi yaitu sejumlah kurang lebih 43%, sebagai hasil penjumlahan antara infeksi saluran pernapasan akut dan penyakit lain pada saluran pernapasan atas. Dari sini dapat ketahui bahwa faktor resiko penyakit pernapasan berada di angka hampir setengah dari keseluruhan keluhan.

Selanjutnya, melihat sumberdaya medis dan kesiapan infrastruktur bidang kesehatan Kota Manado. Berdasar data tahun 2018, pekerja medis yang tercatat di Kota Manado berjumlah 1.289 orang dan terdiri dalam berbagai profesi dari dokter umum hingga ahli gizi. Dari proporsi umum ini, jika diambil rasio dengan penduduk kota Manado, maka setiap satu tenaga medis melayani setidaknya 411 orang. Ini rasio umum semata dan belum dibagi lagi secara khusus.

Lebih jelasnya, 1.289 itu terdiri dari: dokter spesialis berjumlah 472; dokter umum 365; dokter gigi 42, kemudian tenaga kesehatan non-dokter terdiri dari perawat 246 orang; Bidan 101 orang; tenaga farmasi 29 orang dan Ahli Gizi 34. Rasio 1:411 sebelumnya, akan semakin timpang jika kita memisahkan tenaga dokter baik umum dan spesialis kemudian dibagi dengan jumlah penduduk kota, dimana setiap satu dokter akan melayani setidaknya 633 orang.

Sementara untuk ketersediaan infrastruktur kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas, secara keseluruhan jumlah rumah sakit yang ada di Manado sebanyak 2.190.

Dari data-data tersebut, peneliti sandingkan dengan keterangan resmi dari BNPB yang menyatakan dalam penanganan kasus Covid-19, Indonesia masih kekurangan dan membutuhkan setidaknya 1.500 dokter spesialis, terutama paru, anestesi dan dokter umum pranata laboratorium serta sekitar 2.500 perawat. Keterangan ini diberikan tanggal 26 Maret, dimana angka positif belum mencapai 1.000 orang.

Misalnya, RS. Darurat Kemayoran tersedia 3.000 tempat tidur khusus untuk pasien Covid-19. Dalam rasionalisasi angka-angka tersebut, kita melihat bahwa Manado akan mengalami kesulitan jika jumlah pasien positif bertambah dan skalanya semakin meluas, ini dikarenakan jumlah tenaga medis yang minim termasuk fasilitas kesehatan yang dimiliki.

Melihat dari jumlah tenaga dan fasilitas medis yang Manado miliki, akan benar-benar berbahaya jika grafik penyebaran virus semakin meluas dan jumlah pasien positif meningkan tak kunjung landai.

Logisnya, justru penanganan non-medical atau preventif jauh lebih masuk akal dilakukan, seperti social atau physical distancing dan higienitas menjadi semakin penting dilaksanakan dengan baik, benar dan disiplin. Dalam kondisi ini, suatu kerjasama yang baik dari tenaga medis, pemerintah dan semua unsur masyarakat jauh lebih penting dari penanganan ketika ada kasus.

Pandangan Shaad dari pengalaman Pandemi, Epidemi dan Endemi

Secara historis, manusia tak pernah memiliki pengalaman tanpa berhadapan dengan wabah. Tahukah bahwa Manado, kota tempat kita bergerak saat ini merupakan suatu wilayah pemukiman baru yang penduduk awalnya ‘mengungsi’ dari pulau yang sekarang disebut Manado Tua karena diakibatkan wabah. Kemudian lembat laun berkembang menjadi pemukiman kota seperti sekarang ini. Begitulah catatan dalam artikel berjudul ‘De Manadoreezen’, yang keterangannya diambil dari sumber-sumber vernakuler atau oral.

Dalam skala Manado, katakanlah Sulawesi Utara, jangan pernah sekalipun berpikir bahwa ini adalah pengalaman pertama dan terbesar kita dalam menghadapi situasi wabah, dalam hal ini dapat diinterpretasikan sebagai epidemi, pandemi dan endemi. Kita pernah mengalaminya ratusan dan puluhan tahun lalu, beberapa dalam situasi lebih parah. Bahkan, pada abad 19, krisis epidemi yang parah terutama Kolera dan Malaria telah menyababkan penurunan populasi signifikan.

Kolera atau cholera morbus merupakan pandemi yang muncul pertama kali pada tahun 1817 di Bengal. Penyakit ini disebabkan bakteri vibrio cholerae yang berjangkit diakibatkan oleh air yang terpolusi feces atau lewat transmisi indvidual. Wabah tersebut sampai Minahasa sejak Juni 1830, kemudian secara cepat menyebar dan menyebabkan kematian lebih dari 480 orang di berbagai wilayah berbeda.

Setelah beberapa tahun mereda, wabah ini berubah menjadi epidemi regional pada 1867 dengan mencapai Kema dan Kampung China Manado, sekalipun umumnya tiap wilayah Minahasa relatif terhindar. Pada Agustus 1867, epidemi ini sampai di wilayah Sangihe-Talaud kemudian mendorong kematian yang dihitung mencapai 1.500 jiwa.

Setelah tahun 1854, terjadi penurunan jumlah pasien kolera dan epidemi ‘non-cacar’ secara dramatis dari penduduk Minahasa yang tidak dapat dijelaskan dalam kerangka penanganan medis, akhirnya mendorong kesimpulan berbagai laporan bahwa perubahan perilaku masyarakat terhadap penyakit melalui peningkatan higienitas pastilah memainkan peranan kunci terhadap berita baik ini.

Sedangkan Malaria, pada abad ke-19 hingga ke-20 di masa orde baru, Manado dan sekitarnya seperti Minahasa, Kepulauan Sangihe-Talaud dan Bolmong dikenal sebagi wilayah endemi Malaria. Catatan-catatan perjalanan abad ke-19 menyatakan bahwa setiap pengunjung yang datang ke Manado, pastilah mempertaruhkan hidupnya karena amat sangat mungkin terjangkit Malaria. Dalam periode 1930an, endemi malaria bahkan menurunkan populasi manusia di wilayah Bintauna dan Dumoga. Dumoga kehilangan lebih dari 5.000 penduduknya dalam dekade yang sama diakibatkan malaria.

Banyak hal yang menyebabkan malaria bertahan sebagai endemi selama ratusan tahun dan dengan didukung kondisi berbeda-beda. Dalam masa ratusan tahun tersebut, di Sulawesi Utara, malaria benar-benar nanti bisa ‘dikendalikan’ ketika sudah memasuki masa orde baru.

Sebagai penanganan, pemerintah Hindia-Belanda pernah mendistribusikan quinine sulphat atau obat anti-malaria secara gratis lewat depot-depot yang diproduksi oleh pabrik obat-obatan di Bandung di paruh pertama abad ke-20. Laporan penggunaan quinine yang efektif pada abad sebelumnya datang juga dari Tonsea yang menyatakan adanya epidemi demam yang menjangkiti 500an orang, dimana terjadi kemajuan yang cepat setelah pasien mengkonsumsi quinine.

Beralih pada masa pemerintahan Indonesia, malaria di Sulawesi Utara masih saja jadi endemi. Penanganannya bahkan mendorong dibentuk badan khusus pada tahun 1962 yang disebut Komando Operasi Pembasmian Malaria, disingkat KOPEM. Diisi oleh 20 orang staf dan didukung 4 kendaraan dinas, jumlah yang relatif banyak ketika itu jika dibandingkan terbatasnya staf yang dimiliki. Lembaga tersebut berdiri hingga tahun 1968 dan setelahnya kebanyakan dari staf direkrut oleh kantor urusan kesehatan tingkat provinsi.

Selama masa ini hingga orde baru, pendekatan yang digunakan adalah edukasi, penyemprotan insektisida, termasuk distribusi obat chloroquine dan fansidar secara gratis. Hingga kemudian ada laporan pada tahun 1980an dimana penyemprotan insektisida dan obat-obatan dalam kandungannya yang standar saat itu menjadi menurun efektifitasnya karena serangga dan parasit malaria telah resisten walaupun tetap ditemukan laporan-laporan kemajuan di banyak wilayah dan memulai membuat obat baru yang dapat mengatasi masalah resisten tersebut.

Dalam masa penanganan, bahkan pernah dilaksanakan suatu penelitian mengenai malaria yang melibatkan angkatan laut Amerika Serikat. Akhirnya, malaria kemudian dapat dikendalikan pada dekade 1990an. Menariknya, masyarakat setempat juga menghadapinya dan mengembangkan suatu pengetahuan farmakologi lokal atau ethno-farmakologi, yaitu pengetahuan mengenai obat-obatan yang diambil dari lingkungan sekitar, dan biasanya berupa tumbuh-tumbuhan.

Dalam laporan oleh seorang dokter pemerintah di masa itu, bahkan mengomentarinya sebagai sebuah ‘keajaiban’. Laporan dari kepulauan Sangihe menunjukkan adanya 5 tumbuhan yang digunakan sebagai obat demam, termasuk jenis jamur Pachima (Lentinus) Tuber-regium dan daun dari pohon jenis crataeva magna. Masyarakat Bolmong menggunakan biji dari pohon yang berasal dari genus xylocarpus, tetumbuhan di hutan rawa yang diidentifikasi tahun 1933 sebagai penanganan lokal untuk malaria. Masyarakat Minahasa menunjukkan rotan-rotan liar yang digunakan untuk menghadapi demam dan tercatat ada 16 jenis yang terdiri dari genus Korthalsia dan Calamus.

Shaad mengambil kesimpulan serta belajar dari data-data statistik dan sejarah seperti yang dipaparkan. Dalam skala nasional, data-data statistik sebenarnya menunjukkan angka potensi sebaran yang kritis dan tidak menggembirakan. Untungnya, sejauh ini, statistik di Sulut cukup baik dalam arti ‘masih tertahan’ dalam hal jumlah pasien dan angka kematian.

Tetapi, Manado ditempatkan sebagai ‘pusat penanganan’ pada skala provinsi, maka data kondisi kecenderungan penyakit masyarakat, fasilitas kesehatan serta sumberdaya medis secara umum sebenarnya cukup rentan. Sebab itu, pendekatan-pendekatan non-medikal sebenarnya justru jauh lebih diperlukan untuk tetap ‘menahan’ angka-angka statistik dan membuat fasilitas serta sumberdaya medis untuk kebutuhan pandemi ini tidak sampai digunakan secara maksimal, apalagi overload.

Para peneliti Shaad berkaca dari pengalaman sejarah, setidaknya telah menunjukkan gambaran dalam menghadapi wabah di daerah ini. Dimana ‘perubahan perilaku’ lebih efektif daripada penanganan medis. Pada pandangan ini, tiap sumberdaya medis tentu saja mendapat peran teramat penting, namun bijaksana bagi tiap kelompok sosial untuk menempatkan penanganan medis sebagai jalan terakhir ketika telah terpapar. Sehingga, penerapan jarak fisik dan kepedulian terhadap higienitas serta daya tahan tubuh teramat penting.

Melalui sudut yang sama pula, Shaad mengetahui bahwa membangun solidaritas bersama dalam kelompok sosial itu penting dan justru sangat membantu pada masa sulit ini, dalam bahasa Manado baku mangarti juga baku bantu.

Misalnya, para pekerja di media pemberitaan yang memberi informasi dan edukasi, juga aksi solidaritas berbagi alat pencegahan, seperti masker, hand sanitizer, dan penyemprotan disinfektan dari setiap kumpulan pemerhati, serta sikap kesadaran dari semua kalangan atas pencegahan wabah Covid-19 ini sangat membantu, contohnya dengan menghindari aktivitas kerumunan.

Sederhananya, ikatan sosial bukan hanya petugas medis dan pemerintah semata yang peduli pada krisis wabah Covid-19 ini, namun adapun para relawan dari berbagai kelompok sosial yang sadar dan memberi perhatian pada batasan perilaku, yang mana patut dilakukan dan mana yang memiliki resiko tinggi terpapar.

Begitupun memandang dari berbagai bidang ilmu pengetahuan, terutama antropologi, sejarah, ilmu lingkungan dan biomedik itu sendiri, manusia telah membuktikan diri sebagai makhluk paling adaptif atau dapat menghadapi kondisi genting untuk bertahan, melewatinya dan melanjutkan eksistensinya.

Dalam kondisi semacam ini, memang ada pula sudut pandang bahwa bumi sedang ‘memperbaiki serta memperbaharui diri’, tetapi, manusia juga merupakan bagian dari ekosistem bumi tersebut, dan dengan demikian manusia dalam menghadapi situasi pandemi ini juga ‘memperbaiki serta memperbaharui diri’.

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Alerta