Your Vox

Corona dan Kerentanan Ekonomi Sulut

Krisis akibat covid-19 yang melanda Sulawesi Utara tentu memberi dampak terhadap perekonomian. Namun, sejauh ini belum terlihat kebijakan ekonomi pemerintahan Sulawesi Utara.

Kerentanan ekonomi di Sulawesi Utara mulai terasa saat agen-agen pariwisata merumahkan pekerjanya, saat mulai ada pembatasan jumlah kunjungan wisatawan terutama dari Tiongkok. Tidak ada kebijakan resmi dari pemerintah yang menunjukkan pembelaan terhadap kelompok pekerja di sektor pariwisata. Jangankan kebijakan, pernyataan saja nyaris tidak terdengar. Banyak dari mereka dirumahkan, jauh sebelum imbauan untuk tetap di rumah.

Kini pendemi corona semakin mengganas. Semua daerah waspada, termasuk Sulawesi Utara. Salah satu langkah waspada adalah dengan meliburkan aktivitas sekolah dan perkantoran. Namun, sejauh ini juga belum ada paket kebijakan untuk melindungi masyarakat ekonomi rentan. Paling tidak ada jaring pengaman sosial dan ekonomi, agar masyarakat ekonomi rentan semakin tidak terpuruk.

Pembatasan gerak dan mobilisasi tentu akan berpengaruh terhadap situasi ekonomi, karenanya sangat penting untuk mendorong efektifitas kebijakan ekonomi, terutama kebijakan fiskal. Dalam kondisi krisis semacam ini pola kebijakan yang mendorong permintaan untuk belanja tentu tidak efektif, dan bahkan bukan tidak mungkin akan makin memperparah krisis.

Pola aktivitas ekonomi bergeser dalam transaksi secara online, namun tentu ini juga hadir dalam jumlah terbatas apalagi jika krisis tidak kunjung reda.

Aktivitas ekonomi bergantung pada pasokan dan Sulawesi Utara bukanlah daerah yang mandiri. Beberapa bahan utama masih bergantung dari daerah lain. Bagaimana memastikan agar pasokan terjaga dan dapat diakses oleh semua golongan warga? Gubernur Sulut, Olly harus memikirikan ini.

Wilayah perkotaan adalah wilayah yang mungkin akan mengalami dampak lebih besar dibandingkan di pedesaan, dipengaruhi oleh kepadatan penduduk dan mobilitas ekonomi.

Hal ini diperparah dengan tingkat ketimpangan yang lebih tinggi di daerah perkotaan ketimbang di pedesaan. Ketimpangan ini akan berdampak pada akses warga rentan terhadap pasokan bahan utama, terutama jika terjadi panic buying jika krisis semakin parah. Semoga saja tidak.

Salah satu strategi jangka pendek yang mungkin saja dilakukan adalah dengan inisiasi jaring pengaman ekonomi serupa Bantuan Langsung Tunai atau Program Keluarga Harapan. Namun ini tentu harus di kaji lebih lanjut. Satu hal yang pasti, penanganan krisis ini akan membutuhkan alokasi dana yang besar. Sudah saatnya Pemerintah Sulut merelokasi belanja yang kurang penting, misalnya saja belanja baju dinas pegawai yang mencapai puluhan miliar di alihkan untuk belanja baju APD untuk tenaga medis.

Di saat krisis begini, penting memang untuk mengirimkan puisi penyemangat tapi alangkah lebih bijak jika pikiran, waktu dan tenaganya dialihkan untuk memikirkan paket ekonomi, agar yang rentan tidak semakin rentan. Paling tidak, tegurlah para korporat agar bisa berempati dan meliburkan para pekerjanya, bukan justru menambah jam kerja. Paling tidak, tegurlah perusahaan yang merumahkan pekerjanya tanpa insentif dan jaminan pendapatan.

Kini bukan waktunya untuk “nyinyir”, karena dalam situasi seperti ini, langkah positif sekecil apapun harus di apresiasi. Namun, kita harus tetap mendorong agar pemerintah Sulawesi Utara berpikir komprehensif dan siap menghadapi dampak dari krisis ini. Pemerintah harus memastikan agar semua warga Sulawesi Utara dapat mengisolasi dirinya tanpa khawatir kekurangan secara ekonomi, karena merasa terlindungi oleh kebijakan pemerintah.

Pemerintah harus mengupayakan langkah afirmatif terhadap kelompok rentan, agar mereka mendapatkan keadilan, agar krisis ini tidak membuat mereka timpang, itulah esemsi keadilan. Adil memang dimulai dari pikiran, dan tentu tidak hanya berhenti di pikiran, bukan pula sebatas retorika, tapi diperlihatkan dalam tindakan dan bagi pemerintah tindakan itu adalah kebijakan.

 

Editor: Indeng

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Your Vox