Your Vox

Keluh Mereka yang Terpaksa di Luar Rumah

Kini wabah corona virus merambah tanah air, impaknya ratusan orang telah “berpulang” tiap harinya.

Sebenarnya wabah tersebut dapat dicegah sebelumnya dan tak akan berdampak seburuk ini. Namun, mungkin karena pemerintah cenderung mengutamakan hal-hal lain yang dianggap mereka lebih penting. Sehingga, hal yang sebenarnya lebih genting, dikesampingkan.

Imbauan “kerja di rumah” akhirnya diberlakukan. Kebijakan pemerintah untuk menekan penyebaran virus itu, nyantanya punya ceritanya sendiri: perekonomian menyusut, dan ada segelintir umat jadi resah memikirkan keberlangsungan hidup hari ini dan esoknya gimana.

Menyikapi ketegangan itu, saya jadi lemas dan malas mikir. Sebab yang “di atas” tak memikirkan itu, mungkin mereka hanya peduli kepentingannya atau krisis ekonomi kerabatnya sendiri, bukan mereka di luar sana yang menanggung segala dampak kebijakan itu.

Seiring itu, belakangan ini kota Manado jadi sunyi. Saya hanya melihat segelintir orang, minimnya kendaraan umum, toko, kedai kopi, warung makan, bahkan beberapa mall dan supermarket terbesar tutup, sebab telah diimbau pemerintah agar di rumah saja.

Namun sementara itu saya masih bertemu mereka yang terpaksa berada di luar rumah, diantaranya ojek online (ojol), para pekerja swasta, para pedagang, dan sebagainya yang serupa. Melihat kenekatan itu, saya menanyakan alasan mereka.

Ketika berpapasan dengan teman saya, salah satu buruh di perusahaan x, ia mengatakan, “Biarpun begitu saya tetap kerja. Mau gimana lagi, tetap ikutin arahan atasan.”

Memang pemerintah telah mengimbau agar bekerja di rumah saja, namun entahlah apa yang dipikirkan mereka yang panggil “atasan”, sehingga tak menyikapi arahan tersebut. Para buruh pun bisa apa? Kan mereka dibayar untuk menurut bukan menuntut.

Kemudian, saya bertemu dengan salah satu pedagang gorengan yang juga memiliki kegelisahan serupa. Malam itu saya makan pisang goreng di warungnya, sambil makan, ia mengajak saya ngobrol soal virus corona.

Yang menyedihkan adalah mendengar keluhannya perihal pendapatan harian yang menurun jauh pasca imbauan stay at home “Saya lebih memilih mati karna virus corona dibanding mati karena hanya berdiam meratapi hidup di rumah.”

Bukannya tak nurut, tapi ia memikirkan nasibnya jika tak berdagang. Sebab, pemerintah hanya mengimbau tanpa memberi jaminan kehidupan jika mereka di rumah saja.

Bukan hanya buruh dan pedagang tadi, ojol-ojol pun punya kesusahan serupa.

Pekerjaan mereka memang amat rentan, senantiasa berhadapan dengan beragam orang tiap waktu, yang entah itu seorang pengidap corona atau tidak.

Salah satu ojol berkata, “yah mau bagaimana lagi.. jika tak mencari (bekerja) saya mau makan apa nanti?”

Mereka, pekerja swasta, pedagang, ojol, dan sebagainya bukannya tak menurut imbauan dari pemerintah. Masalah wabah virus corona pula, bukannya mereka tak takut, tapi mereka memilih di luar rumah agar dapat melanjutkan hidupnya di hari esok.

Sampai hari ini pun pemerintah entah telah memikirkan hal-hal ini atau belum. Atau sudah tapi lebih peduli kepentingan mereka sendiri.

Saya akui tindakan pencegahan pemerintah lumayan baik, namun untuk solusi dari akibat kebijakan pencegahan itu apakah sudah dipikirkan, apalagi nasib mereka yang terpaksa di luar rumah?

 

Rio S. Fabanyo
Makhluk entah-berentah yang ingin berdamai pada dirinya sendiri

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Your Vox