SlightYour Vox

Kisah Ze: Menjadi Manusia di Antara Manusia Lain Itu Sulit

Tepat tanggal 1 Maret ini, Hari Solidaritas LGBT diperingati. Sebenarnya, menjadi manusia yang solider itu tak perlu hanya pada momentumnya, dan menjadi diri sendiri tak perlu pula butuh pengakuan, pada hakikatnya kita kan sesama manusia yang setara di mata Tuhan. Sejatinya, solidaritas itu dilakukan selalu, tampa hari perayaan tertentu. Tulisan ini terbit pada momentumnya, karena sebenarnya saya ingin menampar beberapa dari kalian di waktu yang tepat, saat topik ini sedang diperbincangkan, sedang punya panggung.

Sehubungan itu, hingga kini saudara kami sesama manusia ini dikelompokkan jadi kelompok yang tak dianggap, saya teringat sosok sahabat yang mengalami ketidakadilan serupa.

Saya mau menyebutnya Ze saja.

Kami jumpa pada malam pengap, di sekretariat Pers Mahasiswa Inovasi Unsrat. Jiwanya berapi-api, di rentetan jemu para anak magang yang sementara menjalani materi masa Pekan Penerimaan Anggota Baru (PPAB). Saat jeda kegiatan, kami saling menyapa tepat di pojok sudut ruangan sekretariat di dekat pintu.

“Ada korek api ?,” ia bertanya.

Saya memberinya korek api kemudian digenggamnya, lalu dibakar sebatang rokok yang diselip di antara jemarinya. Aneh, memandang raut wajahnya. Tampak cemas, sembari menghisap rokok itu, gemetaran di sela jarinya.

“Saya Rian,” sambut teman saya, seiring menawarkan tangannya.

“Ze,” balasnya, menjabat lemas tangan Rian.

“Saya dari tadi tak tahan, pengen ngerokok”, sambung Ze sambil mengembalikan korek api. Mungkin, rindu pada asap rokok menjadi alasan kecemasannya, kira saya begitu.

Setelah sedikit basa-basi, kami bercerita soal aksi demo #ReformasiDikorupsi lalu. Saat itu, Ze melakoni opname di rumah sakit, lalu ketika mendapati kabar dari beberapa teman di sosmed terkait agenda aksi itu, ia terkejut. Tak berpikir panjang, dia lekas mencabut selang infus, lalu beranjak menuju gedung DPRD.

“Seketika hati saya tergerak, lalu beranjak walaupun tak bugar,” kata Ze sembari menghembus asap rokok.

Ia melanjutkan “Masih sempat saya memegang mikrofon, menyuarakan keadilan kala itu,” kemudian dihisap sebatang rokok itu buru-buru. Saya dan Rian dibuat melongo, sementara ia berkisah kenekatannya ikut demo meski tengah sakit.

“Saat depresi, akal sehat pun buyar, saya memutuskan melepas jiwa raga. Tak ada angan-angan di pijakan bumi, nafas pun tersedak-sesak berada di sini. Sesaat membuka mata, terasa asing, mendadak saya bisa telentang di ruang UGD.”

Setelah perbincangaan itu, terlihat sisi yang berapi-api meredup dipadam sisi melankolis yang ia miliki. Mungkin, selama ini, ia memaksakan batin seperti mengenakan topeng, agar dapat membaur. Lagi-lagi, saya kira begitu.

“Saya lanjut materinya dulu ya,” tak berlama-lama ditindihnya rokok itu di asbak, Ze kembali ke tempat semula, berkumpul bersama rekan magangnya.

Beberapa hari kemudian, di tempat yang sama: di gedung kumuh tak terurus; di habitat tikus-tikus jorok; juga sarang nyamuk nan senantiasa mendambakan darah manusia; di sekretariat Inovasi, kami bertemu lagi, duduk dan bercerita. Namun malam ini agak berbeda, tak lagi pengap, ternyata Ze telah merelakan kipas angin dari kosnya berada di sekretariat. Tetapi, wajahnya nan tirus itu masih terlihat menyimpan tumpukan keresahan. Lalu ia bercerita,

“Dalam Hukum itu tak ada nilai kemanusiaan, kalau mau adil, yah.. mau tak mau harus tak berperasaan, di Fakultas Hukum kami diajarkan begitu.” cakap Ze, yang akhirnya diketahui adalah mahasiswa Fakuktas Hukum angkatan 2015 ini, sehabis menyeruput segelas kopi Kotamobagu.

Menurut Ze, tak ada yang adil dalam hukum. Sisi kemanusiaan seorang penegak hukum mesti ditundukan pada apa yang disebut undang-undang, yang kata Ze, pada akhirnya undang-undang itu sendirilah yang menciptakan ketidakadilan.

Ilmu Hukum tak mampu membuat seorang Ze jatuh cinta. Sudah terlampau jauh, Ze telah lebih dulu terpesona dengan sastra. Ze kecil sudah diperkenalkan dengan karya-karya sastra klasik, sehingga menulis sajak-sajak sudah digelutinya di usia yang bisa dibilang terlalu muda untuk mencintai sastra. Di hukum, sisi kemanusiaannya dan keadilan sering bergelut

Meski beberapa kali dihalau Oma, diiming-imingi masa depan Ze akan cerah jika menjadi spesialis hukum, sampai sekarang ini Ze tetap menulis sajak.

Sajak-sajak dark dan gothic menjadi ciri khasnya. Katanya, ia mau lebih jujur dengan karyanya, tak mau berdusta pada keadaan yang ia alami. Semua karya tulisnya merupakan hasil kemurnian hati. Ia tak suka menulis kebahagiaan, karena ia sendiri memang merasa tak begitu bahagia, tak suka menulis terang karena pasti akan berkahir gelap. Ia hanya sosok penulis yang realistis, tak mengamini kebahagiaan abadi.

Kami jadi banyak mendengar daripada bercerita ketika bersamanya. Tak pernah saya temui mahasiswa hukum seperti Ze, cara pandangnya yang unik, out of the box.

Banyak cerita telah terekam, kini Ze telah menjadi anggota resmi Persma Inovasi setelah menjalani proses pelantikan nan penuh drama. Sisi kemanusiaannya diguyur usaha uji mental oleh para panitia pelantikan. Meskipun air matanya gugur, ia tetap teguh dengan kebenarannya, masih menjujung nilai kemanusiaan.

Tak cukup banyak orang yang melihat dan menyukai keunikannya, hanya segelintir orang memandangnya selayak manusia.

Saya sedih, ketika mendengar keluh kesahnya. Ketika ia tersedak-sedak, pikirannya halu tak-berantah. Ze pun mengungkap kesedihan yang ia alami kepada saya dan teman yang lain.

Dengan tekad bulat untuk melanjutkan kuliahnya setelah cuti panjang, ia memutuskan kembali ke kampus dan mengurus segala sesuatu. Sayang, bukan bantuan yang didapatkan malah pelecehan verbal dari beberapa teman sesama mahasiswa bahkan dosen dan staf di fakultasnya. Mentalnya terusik, dadanya sesak. Tanpa sadar, Ze meninggalkan motornya di kampus, berjalan kaki dari fakultas ke indekosnya yang lumayan jauh. Ze mengakui kala itu ia merasa kehadiran dirinya mendapat penolakan keras yang bertubi-tubi, bahkan ketika ia mencoba bangkit dan melanjutkan kuliahnya.

Di fakultas berkedok “keadilan” yang berlindung di bawah kampus bersemboyan “si tou timou tumou tou” yang berarti “manusia baru dapat disebut manusia, jika sudah memanusiakan manusia” itu, Ze tak dianggap. Dia kecewa, hal yang sensitif baginya, dijadikan guyonan bersama.

Kini dia bingung, mau bagaimana tubuhnya ditempatkan. Karena merasa tak mendapatkan penerimaan di fakultasnya, ia berencana pindah. Mereka tak menerimanya selayak manusia, Ze, bagi mereka adalah lelucon. Karena ocehan mereka, jiwanya terombang-ambing, merasa berdosa dihakimi oleh mereka yang menganggap diri paling manusia.

Sangat sulit baginya untuk mengekspresikan diri sendiri, menjadi Ze yang seutuhnya, yang diinginkannya. Meski selama ini, menjadi Ze seutuhnya sebenarnya tak merugikan orang lain.

Ze memang seorang LGBT, tapi bukanlah ancaman. Ia tahu betul, bagaimana membawa dan menempatkan dirinya.

Ia sosok teman baik moralnya. Ia berpengaruh, memberi pengertian yang luas, mengenai hakikat manusia, juga bagaimana manusia membiadabi sesama manusia.

Ze bisa menjadi sosok yang sangat lucu dan konyol yang dapat mencairkan suasana kala teman-temannya bosan dan muak dengan topik perbincangan yang itu-itu lagi.

Sosok Ze adalah manusia biasa dengan segala keunikannya. Sayang, masih sulit bagi Ze untuk menjadi dirinya sendiri, yang tanpa topeng juga tanpa dibedakan dengan manusia lain. Dia hanya ingin dipahami dan diterima saja, selayak manusia.

 

Editor: Indri Karundeng

Rio S. Fabanyo
Makhluk entah-berentah yang ingin berdamai pada dirinya sendiri

You may also like

3 Comments

  1. ze, kita spesial.

  2. Makasih kak Natali, semesta menyertaimu

  3. Pengen sharing dengan kak Ze dong, tertarik membuka ruang dan perspektif baru.

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Slight