Your Vox

Menegor Wahyu Alfy Yang Tak Senang dengan RUU Ketahanan Keluarga

Saat setelah membaca tulisan kamu di slight voxdoc itu, aku tercengang sebentar dan mendadak lemas. Dalam mengedit tulisanmu itu pun aku dibuat bimbang, antara merevisi semua dan mengembalikannya padamu; tidak diterbitkan; atau aku menangis saja dan berhenti jadi editor di voxdoc, media yang kena serang remotivi gara-gara gemar menyadur berita harian seperti media-media lokal dan interlokal yang lain-lain itu. Karena bingung, aku memilih jalan terbaik, tetap menerbitkan slight-mu namun dengan terpaksa menegormu lewat tulisan juga. Lebih ena, lebih praktis.

Baiklah, jadi begini, Yuk..
Saya kira kamu sudah tahu kalo mereka yang duduk di senayan itu memang tidak main-main dengan lakon yang mereka jalani, “wakil rakyat”, yang artinya ada rakyat yang diwakili, jadi apapun yang coba diusulkan sudah tentu berasal dari “rakyat” yang dia wakili.

Contohnya si Endang, anaknya Golkar. Ironis sekali nasibnya. Mungkin niatnya baik, ingin membantu bunda-bunda komplek yang dia kira sudah tidak perlu kerja karena gaji suami mereka sudah cukup menghidupi, sehingga para istri punya lebih banyak waktu lagi menyiram  bunga-bunga hias di halaman. Mungkin Endang coba mengusulkannya dengan harapan disetujui “wakil rakyat” yang lain dan seluruh istri di Indonesia.

Namun, nahas. Alih-alih para bunda, anggota sefraksinya pun menolak usulan itu. Kakak-beradik-Golkar lain sepertinya mewakili para istri yang tidak lagi berkecimpung di dunia perbungaan juga mewakili para suami yang kesulitan terhimpit kebutuhan ganti onderdil motor dan kebutuhan henfon baru anaknya.

Meski begitu, yang dilakukan Endang itu tidak keliru, yang perlu diingat adalah dia hanya menjalankan lakonnya, yang usulannya akan ditolak keras yang lain, disepakati sama kerasnya oleh yang lain, menimbulkan pro dan kontra, akhirnya jadi ladang duit media dan buzzer milik orang besar, dan yang paling dekat: bikin sakit kepalamu, Yuk. Sampai-sampai kamu lupa, ini cuma settingan agar persoalan yang lebih krusial ditimbun bunga-bunga hias tadi.

Saran aku sih, Yuk, kau skip sajalah soal RUU Ketahan Keluarga ini. Lagian, keluarga mana sih yang tahan sama RUU beginian? Kalau memang ada, zaman Paleolitikum terasa lebih canggih dan ramah gender ketimbang besok.

Uwih.

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Your Vox