Editor's PickSlight

Mengenang Sudan, Si Jantan ‘Northern White Rhino’ Terakhir Yang Pernah Bumi Miliki

Namanya Sudan. Diberi nama sesuai dengan tempat kelahirannya: Sudan Selatan, Afrika. Tahun 1973, bayi Badak Putih Utara (Northern White Rhiho) ini lahir. Seperti anak badak lainnya, Sudan harus menunggu induknya melahirkan lagi sebelum ia bisa hidup mandiri.

Cula Sudan mulai tumbuh memanjang di usianya yang kedua tahun. Di usia yang kedua ini pula (1975) Sudan dan temannya Saut, Nola, Nadi, dan Nesari diambil oleh Chipperfield’s Circus untuk dipamerkan di kebun binatang Dvur Kralove di Republik Ceko.

Padahal waktu itu, populasi Badak Putih Utara tersisa sedikit di alam liar. Faktor utamanya: ulah manusia. Konflik saudara antara Sudan dan Sudan Selatan, dan perburuan cula untuk memenuhi permintaan bahan baku obat-obatan dari Cina dan Vietnam. Obat-obatan non-ilmiah dan tidak ada nyambung-nyambungnya dengan perbaikan masalah kesehatan manusia.

Kebun binatang Dvur Kralove pun mendulang banyak kritikan dari berbagai kelompok pencinta binatang. Dvur Kralove dinilai terlalu banyak mengoleksi Badak Putih Utara. Memisahkan hewan ini dengan habitat aslinya membuat mereka sulit berkembang biak..

Tahun 1980 di Taman Nasional Kongo mencatat, tersisa 13 ekor Badak Putih Utara. Segera, IUCN (Sebuah organisasi internasional untuk konservasi sumber daya alam) mendatangi Dvur Kralove, sebagai kebun binatang yang masih memiliki koleksi Badak Putih Utara, termasuk Sudan. Mereka, pada akhirnya, bersepakat mengupayakan pelestarian.

Membuahkan sedikit hasil, berita suka cita datang dari Sudan. Ia jadi ayah dari tiga anak badak. Nabire lahir pada tahun 1983, enam tahun berikutnya si betina Najin. Sementara si bungsu, lahir prematur dan mati sebelum ia diberi nama.

Tak patah, upaya konservasi terus dilakukan dengan mendatangkan Badak Putih Selatan untuk dikawinkan dengan Badak Putih Utara. Hasil kawin silang ini membuat Sudan memiliki cucu badak bernama Fatu.

Sayang, pembiakan Badak Putih Utara sampai pada tahun 2000 tidak menunjukan hasil yang signifikan. Beberapa badak mati, beberapa yang lain mencapai masa tuanya atau tidak lagi subur.

Kondisi yang sangat memprihatinkan ini mengundang berbagai kelompok pegiat lingkungan, peneliti, dan dokter-dokter di Eropa pada sebuah pertemuan di kebun binatang Dvur Kralove Ceko di tahun 2008.

Hasil kesepakatan pada pertemuan itu adalah memindahkan badak-badak dari Ceko yang beriklim dingin ke Afrika yang lebih hangat, dengan harapan badak-badak malang ini dapat berkembang biak di habitat aslinya. Kesepakatan ini disebut Last Chance to Survive. (red: kesempatan terakhir untuk bertahan) Sudan pun akhirnya pulang ke rumah.

Desember 2009, Afrika menyambut kedatangan Sudan dan kawan-kawan dengan hujan lebat. Sudan berguling-guling di lumpur dan terlihat sangat bergembira. Sesekali ia berdiri dan menghadapkan kepalanya ke langit memandangi air hujan yang turun di culanya. Di Balai konservasi OI Pejeta, Kenya lah, mereka hidup bersama dengan Badak Putih Selatan lain untuk dibiakan.

Seiring waktu berjalan, beberapa Badak Putih Utara yang mengikuti program Last Chance to Survive, mati. Yang kemudian menyisakan Sudan sebagai Badak Putih Utara jantan terakhir, dan dua betina: Najin dan Fatu, anak dan cucu Sudan sendiri.

Sebenarnya, di kebun binatang San Diego, ada seekor Badak Putih Utara bernama Angalifu, tetapi ia bukan pejantan yang subur. Angalifu mati pada Desember 2014, disusul Nabire (anak sulung Sudan) mati pada Juli 2015, lalu pada tahun 2016 disusul lagi seekor anak badak.

Sebagai bentuk penyelamatan terakhir, pengamanan di Balai konservasi OI Pajeta, Kenya makin diperketat. Sudan, Najin, dan Fatu dijaga oleh petugas bersenjata selama 24 jam. Libido pemburu cula belum benar-benar berakhir.

Meski mulai tua, Sudan masih menunjukkan ketertarikannya pada badak betina. Namun, dalam “tradisi badak”, sebelum seekor badak jantan kawin, ia harus memenangkan pertarungan dengan betina yang ingin dikawininya. Tentu saja, kekuatan Sudan dilampaui sang betina dan ia harus dihindarkan dari aktivitas itu untuk keselamatannya sendiri.

Memasuki awal tahun 2018, Sudan mengalami infeksi pada kaki belakangnya. Ia mulai dirawat secara intensif oleh tenaga ahli.

Memasuki bulan Maret 2018, luka-lukanya kian memburuk dan fungsi tulang dan otot menurun karena usia.

Melihatnya semakin tersiksa, tepat pada tanggal 19 Maret 2018 (waktu Kenya) dengan sangat berat hati, ia diwafatkan di usianya yang ke-45. Sebelum diwafatkan, Sudan dihibur oleh para dokter yang merawatnya, juga para petugas keamanan yang rela menjaganya siang dan malam, bahkan menemainya buang air.

Sampai saat ini, hanya ada dua ekor Badak Putih Utara berjenis kelamin betina di bumi, yaitu Najin dan Fatu.
Menurut perkembangan terakhir, peneliti sedang melakukan usaha pembuahan pada kedua betina ini dengan menggunakan sperma yang diambil dari Sudan. Proyek ini merupakan upaya kolaborasi para ilmuwan dari Kenya Wildlife Service, Ol Pejeta Conservancy, Leibniz Institute for Zoo and Wildlife Research, Avantea Laboratory, dan Kebun Binatang Dvur Králové.

Jika saat ini nasib Sudan dan anak-cucunya sedang mati-matian diperjuangkan, bagaimana dengan nasib empat spesies badak lain yang dua diantaranya ada di Indonesia?

Karena fakta yang mesti kita terima adalah: berdasarkan data populasi badak milik WWF, menyebutkan bahwa dari ke 4 spesies badak, Badak Jawa dan Sumatra, berada di urutan pertama dan kedua yang berstatus kritis atau hampir punah. Disusul Badak Bercula Satu, Badak Hitam, dan Badak Putih (Selatan).

Setelah the last male northern white rhino, siapa yang akan menjadi the last male javan rhino?

Haruskah kita selalu menaruh harap pada sains dan membiarkan perburuan terus menerus terjadi? Kalau demikian, membantai seluruh spesies hewan dan menghidupkannya lagi akan menjadi hobi baru umat manusia.

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *