Voxday

Satgas Covid-19 Sulut Dinilai Tak Becus Urusi Satu PDP asal Bitung

Koalisi yang terdiri dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Manado, LBH Bitung, Lembaga Konsultasi dan Bantuan Hukum Sulawesi Utara (Sulut), serta pengamat media memantau kinerja Satuan Tugas Covid-19. Dalam rilis, mereka menilai bahwa pihak satgas tidak mampu menunjukkan bukti hasil pemeriksaan, Jum’at (10/4).

Mereka merespon bahwa pernyataan Juru Bicara (Jubir) Satgas Covid-19 Sulut memberikan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan diberbagai pemberitaan media pada Kamis (9/4/20). Hal tersebut terkait seorang mantan Pasien Dalam Pengawasan (PDP) bernama DNB, yang secara resmi dinyatakan negatif oleh RS. Prof. Kandou, Manado sehingga DNB diperbolehkan kembali ke rumah.

Sebelumnya, Satgas mengaku mereka memiliki hasil pemeriksaan DNB yang menyatakan positif korona dan memaksa pasien tersebut untuk diisolasi di rumah sakit, padahal pihak rumah sakit jelas-jelas sudah memberikan keterangan negatif.

Begini kronologis DNB yang sebenarnya kata koalisi

Minggu, 22 Maret 2020 sekitar pukul 11.30 WITA, DNB dijemput mobil ambulans menuju RS. AL Bitung. Sesampainya di sana, DNB diminta oleh tim Satgas Covid-19 Sulut untuk dirujuk ke RS. Prof. Kandou, sehingga pada malam hari sekitar pukul 8 malam, DNB dirujuk ke RS. Prof. Kandou.

Selasa, 24 Maret 2020, DNB diambil sampel pertama dari hidung, mulut dan darah. Pada Jumat 27 Maret 2020, DNB kembali diambil sampel untuk yang kedua kalinya. Untuk hasil pertama, DNB dinyatakan negatif, namun belum bisa pulang karena harus menunggu hasil yang kedua.

Kata dr. Agung, DNB dalam keadaan baik dan bakal membantunya pulang

Jumat, 3 April 2020 sekitar pukul 2 siang, DNB mendapat informasi bahwa hasil pemeriksaannya sudah ada yaitu negatif. Namun belum bisa pulang karena harus menunggu konfirmasi dari dr. Agung, ahli Infeksi Penyakit Dalam dan sebagai Ketua Covid-19 Sulut. Kemudian pada jam 5 sore, dr. Agung melaksanakan pemeriksaan terhadap DNB dengan waktu yang cukup lama, dan setelah menjalani pemeriksaan, dr. Agung menyatakan DNB dalam keadaan baik dan dia akan membantu proses pemulangannya. Sekitar pukul 7 malam, barulah proses administrasi selesai dan DNB pulang ke rumahnya di Bitung.

DNB diancam dari Kepala Puskesmas Tinombala untuk mengisolasi di Rumah Sakit Manembo-nembo kota Bitung

Selasa, 7 April 2020 sekitar pukul 10:30 WITA, DNB mendapat telepon dari Kepala Puskesmas Tinombala Kota Bitung yang meminta sekaligus mengancam DNB untuk mengisolasi diri di Rumah Sakit Manembo-nembo, jika tidak maka DNB akan dijemput paksa oleh pihak Kepolisian, TNI dan Pihak Dinas Kesehatan kota Bitung.

Pihak RSUD Manembo-nembo tidak mengetahui arahan dari Kepala Puskesmas Tinombala Bitung

DNB kemudian menuruti apa yang dimintakan, pada pukul 23.00 WITA. Setelah sampai, DNB langsung melapor ke pihak RSUD terkait permintaan dari Kepala Puskesmas Tinombala Kota Bitung, namun ternyata pihak RSUD Manembo-nembo tidak mengetahui akan hal tersebut, tidak ada konfirmasi langsung dari Pihak Puskesmas Tinombala atau dari Dinas Kesehatan Kota Bitung, sehingga Akhirnya RSUD Manembo Nembo berinisiatif untuk meminta konfirmasi kepada Dinas Kesehatan Kota Bitung terkait alasan permintaan DNB untuk diisolasi.

Pihak RSUD Manembo Nembo menyatakan bahwa DNB bisa pulang karena sehat

Hingga keesokan harinya 8 April 2020 sampai pukul 03.00 WITA, tetap tidak ada tanggapan atau kejelasan dari Dinas Kesehatan Kota Bitung dan Puskesmas Tinombala. Karna tidak ada kejelasan, DNB meminta pihak RSUD Manembo Nembo untuk melakukan tindakan terhadap dirinya, tapi dari pihak RSUD menyatakan bahwa DNB bisa pulang karna dalam keadaan sehat dan tidak ada keluhan sakit apapun. Karena itu DNB kembali kerumah dan melakukan isolasi diri di rumah.

DNB diminta untuk dites Swab dua kali lagi

Sekitar pukul 17.00 WITA, dari Tim Satuan Tugas Covid-19 Sulut  mengkonfirmasi melalui telepon kepada DNB dan meminta DNB untuk dites SWAB 2 kali lagi. DNB mempertanyakan permintaan tersebut karena ia sudah menjalani dua pemeriksaan SWAB di RSUP Prof. Kandou Malalayang. Hasilnya pemeriksaan menyatakan DNB negatif Covid-19. Hasil pemeriksaan ini dibuat dan ditandatangani oleh dr. Agung.

DNB dijemput paksa tanpa alasan

Malam hari masih 8 April 2020 sekitar 21.00 WITA, Tim dari Dinas Kesehatan Kota Bitung, Polsek Aertembaga, Polres Bitung, Kodim, Camat, Lurah, berserta perangkat lainnya melakukan penjemputan paksa kepada DNB. DNB sempat berdebat untuk mempertanyakan dasar kenapa harus dilakukan pemeriksaan kembali, tapi dari pihak – pihak yang datang untuk menjemputnya tidak bisa menjawabnya. Sempat melalui perdebatan yang panjang, akhirnya pada pukul 22.00 WITA, DNB bersama Istri memutuskan untuk pergi memenuhi permintaan mereka yang menjemputnya, menuju ke RS. Prof. Kandou dengan menggunakan kendaraan pribadinya.

 

Pihak RS. Prof. Kandou mengatakan bahwa pihak Dinkes Bitung tidak bertanggung jawab

Sekitar pukul 23.40 WITA, DNB bersama Istri dan Pihak Dinas Kesehatan Kota Bitung serta Polsek Aertembaga yang mengawalnya, tiba di RS. Prof. Kandou Malalayang. Pihak RS kaget dan heran kenapa DNB dibawa kembali, karena setau mereka, DNB telah melalui hasil pemeriksaan Swab 2 kali dan hasilnya negatif. Berdasarkan pernyataan dari Pihak RS. Prof. Kandou tersebut, pihak kesehatan dinas kota Bitung yang telah menjemput paksa, DNB pun tidak bisa berbuat apa – apa. Tidak ada keputusan yang diambil sebagai bentuk tanggung jawab mereka yang telah menjemput paksa terhadap DNB, sehingga sejak pukul 24.00 WITA hingga keesokan harinya pukul 10.30 WITA tanggal 9 April 2020, DNB bersama Istri hanya tidur dalam mobil di area parkiran RS. Prof. Kandou.

Dokter Agung mengatakan DNB cukup diisolasi di rumah saja, tidak perlu di Rumah Sakit.

Sekitar pukul 10.35 WITA, DNB memutuskan untuk bertemu langsung dengan pihak RS. DNB akhirnya bertemu dengan dokter Agung. Menurut dr. Agung, hasil pemeriksaan DNB adalah negatif corona, sehingga dia cukup disolasi di rumah saja tidak perlu isolasi di Rumah Sakit.

Namun tim Satgas Covid-19 Sulut membantah bahwa DNB positif terjangkit

Namun, pernyataan tersebut mendapat bantahan dari Tim Satgas Covid-19 Sulut dan bersikukuh bahwa, DNB positif Covid-19 berdasarkan hasil yang ada pada Pemerintah Daerah Dinas Kesehatan Provinsi Sulut dan apabila ketika DNB diisolasi di rumah akan membuat resah dan ketakutan bagi masyarakat khususnya masyarakat kota Bitung.

Karena Dinas Kesehatan Provinsi Sulut belum bisa menunjukan bukti hasil tes terhadap DNB yang dinyatakan positif, sehingga dr. Agung menyarankan untuk menunggu hasil klarifikasi antara Dinas Kesehatan Provinsi Sulut dengan Pihak RS Prof. Kandou terhadap kebijakan yang akan diambil terhadap DNB;

Berdasarkan kronologis tersebut koalisi mengatakan bahwa permintaan Satgas Covid-19 Sulut dan dinas kesehatan kota Bitung untuk DNB diisolasi tidak memiliki dasar yang jelas, semata-mata didorong kekhawatiran adanya keresahan di masyarakat. Padahal tindakan pihak pemerintah daerah Satgas Covid-19 Sulut dan dinas kesehatan kota Bitunglah yang menjemput paksa DNB tanpa dasar, yang dapat memancing keresahan dan ketakutan warga.

 

Pernyataan Satgas Covid-19 Sulut sembarangan

Koalisi menjelaskan, apalagi pernyataan Satgas Covid-19 Sulut di media yang tidak dapat dipertanggungjawabkan karena hingga rilis ini dibuat pihak Satgas Covid-19 Sulut dan dinas kesehatan Kota Bitung tidak mampu menunjukan bukti hasi pemeriksaan yang menyatakan DNB positif Covid. Tindakan ini juga akan memperparah keadaan karena keterbatasan rumah sakit.
“JIka setiap orang bahkan yang sudah dinyatakan negatif Covid 19 dipaksa untuk diisolasi di rumah sakit hanya karena ketakutan penolakan dimasyarakat maka RS akan memiliki beban yang sangat berat, dan justru membuat orang negatif covid menjadi rentan terpapar,” lanjut mereka yang ditulis di rilis tersebut.

Koalisi menyarankan, pemerintah semestinya memiliki kebijakan atau konsep untuk meredam stigma negatif terhadap korban covid 19, Jika terjadi stigma di masyarakat yang berakhir pada pengusiran atau hal-hal lainnya, maka akan menambah beban psikologis bagi korban.

Berdasarkan hal-hal tersebut, koalisi pemantau kebijakan Covid-19 Sulut menyatakan, Jum’at (10/4):

  1. Mendesak Pihak Rumah Sakit Prof. Kandou untuk segera mengekspose ke publik terkait hasil pemeriksaan dari korban Covid 19 (DNB), sesuai hasil pemeriksaan yang ditandatangani dan dikeluarkan oleh Pihak Rumah Sakit Prof. Kandou yakni Dokter Agung selaku Ahli Infeksi dan sekaligus Ketua Covid 19 Provinsi Sulawesi Utara;
  2. Mendesak Juru Bicara Satgas Covid-19 Sulut memberikan klarifikasi atas pernyataannya atau membuktikan pernyataannya jika benar ada hasil berbeda pemeriksaan DNB oleh Dinas Kesehatan Pemerintah Daerah Provinsi Sulut, karena pernyataan itu telah merugikan DNB bahkan dapat mengancam keselamatan DNB dan keluarga;
  3. Mendesak Pemerintah Daerah Sulawesi Utara, khususnya Pemerintah Kota Bitung dan Manado untuk dapat membuat kebijakan khususnya bagi korban Covid 19 yang telah dinyatakan sembuh atau negativ sebagai bentuk perlindungan bagi korban Covid 19;
  4. Meminta Pemerintah Daerah Sulawesi Utara, khususnya Pemerintah Kota Bitung dan Manado agar dapat segera mengsosialisasikan informasi terkait Covid-19, agar masyarakat sadar dan memahaminya sehingga tidak terjadi kepanikan dan reaksi berlebihan di masyarakat;
  5. Meminta Pemerintah Daerah Sulawesi Utara, khususnya Pemerintah Kota Bitung dan Manado agar dapat segera memperingatkan kepada masyarakat untuk tidak menyebar berita bohong terkait pandemi Covid 19, karena hanya dapat menimbulkan ketakutan dan keresahan dalam kehidupan bermasyarakat.

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

More in Voxday