Editor's PickSlight

Menonton “Soraya”, Melihat Diskriminasi Perempuan di Indonesia

“Pentingnya laki-laki bicara lebih banyak terkait isu kekerasan terhadap perempuan dan anak, karena isu ini sudah seharusnya menjadi isu bersama. Bukan merupakan isu sektoral perempuan saja.” sebut Abbas dalam membuka diskusi bedah film.

Masih terkait Hari Perempuan Sedunia, Aliansi Masyarakat Peduli Perempuan Sulut, mengadakan pemutaran film The Stoning of Soraya M. bertempat di Fakultas Syariah lt. 4, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Manado, Sabtu (14/3). Pemutaran itu pun dilanjutkan dengan bedah film bareng pemantik Koordinator Advokasi Swara Parangpuan (Swapar) Sulut, Nurhasanah juga Abbas dari Lembaga Perlindungan Anak (LPA) Sulut.

The Stoning of Soraya M., film yang digarap sutradara The Young Messiah, Cyrus Nowrasteh pada tahun 2008 ini, berkisah tentang nasib malang yang menimpa seorang wanita muslim di sebuah kota kecil bernama Kupayeh, Iran. Dalam film ini Zahra, bibi dari Soraya berupaya agar dapat mengungkapkan kisah tragis yang dialami keponakannya kepada dunia.

Di awal cerita, Zahra bertemu dengan seorang jurnalis Perancis keturunan Iran bernama Freidoune, yang kala itu sedang menunggu mobilnya diperbaiki di bengkel kota tersebut. Sebelumnya Freidoune menganggap Zahra adalah orang gila, karena perkataan dari walikota kota tersebut.

“The voices of women do not matter here. I want you to take my voice with you,” – Zahra, bibi dari Soraya.

(red: Suara perempuan tidak ada artinya di sini. Aku ingin kau membawa suaraku bersamamu.)

Ceritapun bergulir mengenai kisah Soraya. Di sini, diceritakan betapa Soraya sering mengalami kekerasan dalam rumah tangga. Suaminya, Ali,  adalah seorang  sipir penjara yang ringan tangan dan selalu bersenang-senang dengan wanita lain. Ia meminta Soraya untuk menceraikannya agar dapat menikah dengan gadis berusia 14 tahun.

Namun, Soraya menolak permintaan itu. Ali tetap mengakali cara agar berpisah dengan Soraya, bahkan menghasut imam setempat untuk bersekongkol dengannya.

Ketika Soraya bekerja sebagai pembantu rumah tangga pada seorang duda beranak satu, suaminya dan imam tersebut mengakali untuk menghasutnya, seakan-akan ia telah berselingkuh. Sebab duda tersebut takut anaknya dijadikan ancaman, ia terpaksa berdusta, merekayasa kepada walikota bahwa Soraya memang menggodanya.

“When a man accuses his wife, she must prove her innocence. That is the law. On the other hand, if a wife accuses her husband, she must prove his guilt.” –Ebrahim, Walikota Kupayeh

(red: Ketika suami mendakwa istrinya, dia [istri] harus membuktikan bahwa dirinya tak bersalah. Itu hukumnya. Sementara, jika istri mendakwa suaminya, dia harus membuktikan kesalahan suaminya.)

Seluruh warga termakan hasutan Ali, sampai-sampai ayah dan kedua putra Soraya tak menganggapnya. Setelah berunding dengan semua petinggi kota, maka diputuskan bahwa Soraya terbukti bersalah dan akan dihukum rajam.

Menurut hukum yang berlaku di negeri itu, jika seorang wanita terbukti berselingkuh maka hukumannya adalah dirajam, di-stoning, atau dilempari batu hingga mati. Zahra yang berusaha mati-matian membela keponakannya, tak dapat berbuat apa-apa.

“Yes, it’s clear, all women are guilty, and all men are innocent,” kata Zahra.

(red: Ya, jelas. Semua perempuan memang bersalah, pria tidak.)

Mirisnya di film ini, ketika Soraya dieksekusi dengan cara dikubur setengah badan hingga sebatas pinggang dengan tangan diikat ke belakang. Lalu, satu persatu orang melemparinya dengan batu yang disediakan tertumpuk itu di hadapannya dan dilanjutkan dengan lemparan yang bertubi-tubi tanpa belas kasihan walau ia menjerit-jerit.

Nyawa Soraya yang malang itu berakhir dengan tragis, sekujur kepala hingga setengah badannya itu bercucuran darah.

Di akhir, Freidoune yang selesai merekam semua perkataan Zahra kemudian menerbitkannya dalam sebuah buku dengan judul yang sama.

Sri Elen Pomulu, selaku koordinator kegiatan mengatakan, film itu bisa dilihat diskriminasi keras terhadap perempuan. Seperti istri kalau menuduh suaminya, dakwaanya harus beserta bukti, sedangkan suami yang menuduh istrinya, malah istrinya yang harus membuktikannya.

“Hal seperti itu yang memperlakukan Soraya dan perempuan di lingkungannya menanggung beban patriarki yang leluasa menyudutkan perempuan,” jelas Sri.

Senada itu, Nurhasanah mengatakan, dalam film tersebut digambarkan kondisi masyarakat setempat memiliki kecenderungan mengiyakan segala sesuatu apa yang dikatakan pemuka agama/tokoh apalagi laki-laki. Sehingga apa yang dikatan tokoh tersebut, digunakan suami untuk mengontrol istrinya.

Seperti yang dilihat dalam film itu ada paham pada masyarakat setempat yang cenderung memihak suami atau lelaki, maka hal sepele seperti tuduhan itu mudah dimanipulasi sang suami.

Nur melanjutkan, hal seperti itu sering kali terjadi di Indonesia bahkan di Sulut. Bahkan itu diatur di dalam undang-undang perkawinan, di mana istri harus membuktikan suami yang dituduh benar-benar bersalah. Banyak perempuan mengeluh, aturan-aturan yang dibuat kerap mempersulit mereka.

Selain itu, istri juga wajib memperlakukan suami dan anak dengan baik, serta memenuhi hak-hak suami dan anak sesuai norma agama, etika sosial, dan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Menurut Nur ini menjadikan perempuan yang hanya bertanggung jawab mengurus suami dan anak, sedangkan suaminya memilki hak yang mendominasi dalam keluarga.

“Kami tak melawan lelaki, namun yang kami lawan adalah patriarki,” tegas Nur.

Aturan yang mendiskriminasi ini merupakan hasil intepretasi dari tokoh agama di dalam film tersebut dan digunakan laki-laki sebagai legitimasi tindakannya, seperti yang disampaikan oleh salah satu dosen tafsir Quran di FUAD, IAIN Manado, Yuli Djamaludin.

Aturan-aturan itu menjadi susah dilawan tanpa adanya peran dari para teolog atau pemuka agama lainnya sebagai pembanding untuk ikut membantu penindasan ini.

Menutup rangkaian kegiatan, Nurila Lasene selaku moderator menegaskan, dalam film ini sangatlah jelas terlihat diskriminasi yang terjadi pada perempuan, dominasi laki-laki, beban ganda perempuan, dan bagaimana masyarakat mengikuti fitnah sepihak yang dilegitimasi oleh pemuka agama.

Peliput: Rio

Penulis: Rio

Editor: Indri Karundeng

 

Rio S. Fabanyo
Makhluk entah-berentah yang ingin berdamai pada dirinya sendiri

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *