Editor's PickSlightVoxday

Hari Bumi: Virus Corona dan Ketidakseimbangan Ekosistem

Tanggal 22 April diperingati sebagai hari bumi, peringatan yang punya tujuan untuk membangkitkan kembali kesadaran warga dunia terhadap pentingnya upaya perlindungan lingkungan dan ekosistem. Karena sejatinya semua makhluk yang ada di bumi ini saling bergantung satu sama lain, jika salah satunya kurang atau rusak maka terjadi ketidakseimbangnya ekosistem alami.

Sementara ini, wabah covid-19 masih menyerang beberapa negara di dunia. Para pakar menduga bahwa berbagai virus juga penyakit, disebabkan oleh pengerusakan ekosistem lewat perburuan satwa liar. Ini berarti ada suatu ketidakberesan dalam ekosistem kita.

Dilansir voaindonesia.com, peneliti mikrobiologi di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Sugiyono Saputra, menyebut sebagian besar penyakit menular yang melanda dunia disebabkan oleh patogen atau mikroorganisme pembawa penyakit, yang bersumber atau penyebarannya melalui hewan. Kelelawar, tikus, monyet, serta satwa lainnya, seringkali menjadi pembawa virus kepada manusia tanpa satwa itu mengalami sakit.

Sugiyono mengatakan, sekitar 61 persen penyakit infeksi yang ada, itu memang penyakit zoonosis, artinya bersumber dari dari satwa liar. Karena proses interaksi antara manusia dan satwa yang bisa jadi karena melakukan perburuan liar.

“Jadi, proses transmisinya itu ketika kita melakukan pengolahannya sebetulnya, ataupun ketika kita melakukan perburuan hewan liar tersebut. Ketika hewan itu sudah dimasak, matang, misalkan di suhu 100 derajat celsius, sampai mendidih selama satu jam, dia secara teoritis bersih, tidak ada patogen,” lanjut Sugiyono.

Menurutnya, selain perburuan dan interaksi manusia dengan satwa pembawa virus atau patogen penyakit, pemanasan global yang disebabkan oleh kerusakan alam dan alih fungsi lahan. Itu semua dapat memunculkan patogen yang bermutasi karena perubahan iklim dan cuaca, termasuk suhu, curah hujan dan kelembaban.

Aktifitas lain yang menimbulkan efek pemanasan global, kata Sugiyono, menyebabkan patogen-patogen penyakit untuk bermutasi. Atmosfer yang mengandung radikal bebas membantu mutasi patogen penyakit tersebut.

“Jadi ketika kita berinteraksi dengan hewan pembawa patogen yang sudah bermutasi tersebut, ternyata bisa langsung menginfeksi manusia, itu yang harus selalu kita waspadai,” jelasnya.

Wakil presiden Institut Riset Keberlanjutan Eropa, Joachim Spangenberg pun mengemukakan bahwa dengan merusak ekosistem, tanpa disadari manusia-lah yang turut menciptakan virus-virus tersebut.

“Kitalah yang menciptakan situasi ini, bukan hewan,” tandas Joachim.

Sependapat dengan itu, profesor ekologi penyakit menular di Universitas Massey, David Hayman, menyebutkan bahwa faktor penciptaan virus bukan hanya ketika manusia menginjak kawasan liar, tetapi juga ketika manusia mulai menjadikan satwa liar sebagai peliharaan atau didomestikasi.

Senada dengan pendapat-pendapat tersebut, sebuah penelitian berjudul “Global shifts in mammalian population trends reveal key predictors of virus spillover risk”, menunjukkan bahwa eksploitasi terus-menerus terhadap alam seperti perburuan, perdagangan, penebangan hutan serta urbanisasi ini telah menurunkan populasi hewan dan juga menyebabkan penyakit yang dapat menular ke manusia.

Lantas, bagaimana dengan Virus Corona 2019 yang sedang membuat separuh dunia babak belur?

Penelitian dari Universitas Negeri Gorontalo membuktikan hewan endemik kelelawar di desa Olibu, positif mengandung virus corona.

Safrianto salah seorang peneliti, membeberkan bahwa dari hasil penelitian, tim menemukan 24 hewan endemik kelelawar yang bermukim di desa Olibu di kabupaten Boalemo, Gorontalo positif mengadung patogen virus corona. Mereka menemukan patogen itu pada saluran pernafasan, saluran pencernaan dan air liur kelelawar.

Menanggapi hal tersebut, lebih dari 200 ahli konservasi di seluruh dunia meminta Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) untuk melakukan penutupan pasar hewan liar secara permanen. Hal ini dilakukan untuk mencegah terjadinya pandemi di masa depan.

Dilansir thendependent.sg, Rabu (8/4/2020), para ahli tersebut juga mendesak WHO untuk mengeluarkan larangan pemanfaatan satwa liar sebagai pengobatan tradisional.

Salah satunya ahli konservasi, Jane Goodal menuturkan bahwa manusia selama ini telah menempatkan pertumbuhan ekonomi di atas perlindungan dan menghancurkan masa depan anak-anak manusia itu sendiri.

Jane menyerukan larangan global terhadap eksploitasi satwa liar, apalagi satwa yang terkait wabah virus corona.

Mengerucut dari sana, ternyata Indonesia sendiri belum ada regulasi menyentuh ke substansi dasar antara Covid-19 dengan perdangan satwa liar (TSL).

Amir yang juga peneliti di zoologi Pusat Peneliti Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LiPI) mengatakan, di Indonesia masih ada beberapa masyarakat lokal yang mengkonsumsi satwa liar.

Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes) juga sudah memonitoring tentang zoonosis yang kemungkinan ada di tempat-tempat tersebut. Namun, substansi yang terkait dengan regulasi tentang satwa liar belum tersentuh sampai mendalam.

“Ini yang belum tersentuh. Untuk mengontrol perdagangan di dalam lebih susah dibandingkan perdangan satwa liar yang ke luar negeri,” tambahnya.

Amir melanjutkan, karena sudah mengacu SK Menhut No. 447 Tahun 2003 tentang TU Pengambilan atau Penangkapan dan Peredaran TSL dan Kementrian Kelautan dan Perikanan No 61/Permen-Kp/2018. Jadi, dua peraturan itu yang baru digunakan.

Sedangkan menurutnya, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan yang juga melibatkan kementerian lain seperti Kementan dan Kemenkes, harus saling berkoordiasi dalam konteks merumuskan regulasi, paling tidak untuk mencegah zoonosis.

“Pencegahan bukan dari satu sisi satwa liar saja, tetapi juga dari aspek zoonosis kemudian aspek kesehatan manusia yang harus terintegrasi untuk melahirkan suatu regulasi yang kuat sebagi upaya pencegahan,” jelasnya.

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *