Editor's PickSlightVoxday

Potret Petani Kopra di Selatan Minahasa (Bagian 2 dari 2)

Selain belajar langsung dari warga sekitar, dari ayahnya, Het Sondakh (78), Boyke mendapat ilmu menanam kelapa dan memproduksi kopra. Keahlian bakopra juga diturunkan Boyke kepada anaknya yang saat ini tengah menempuh studi di salah satu perguruan tinggi negeri di Manado.

Kelapa merupakan sumber mata pencarian keluarga ini. Dari hasil kopra kebun kelapanya, Het menghidupi lima orang anak dan kini dari hasil tersebut turut membantu biaya kuliah cucu-cucunya. Selain menanam kopra Ia juga memiliki tanaman cengkih yang ditanam bersilangan dengan kelapa. Ditemui pada Minggu, 22 Maret 2020, Het mengaku dari segi perawatan kelapa masih tergolong lebih mudah dibanding cengkih.
“Kalo cingke (cengkih) harus perawatan ekstra termasuk rutin pembersihan dan penyemprotan hama. Kalau tidak, bisa tidak berbuah dengan baik. Walaupun harga jualnya jauh lebih mahal tapi cingke tergantung musim, hanya berbuah saat panas panjang, dan untuk panen besar bisa menunggu empat hingga lima tahun sekali,” terangnya.

 

Untuk memanen kelapa yang siap diolah menjadi kopra hanya butuh waktu tiga bulan sekali (kuartal). Bisa diatur hingga dua bulan sekali untuk panen kelapa biji. Jika hanya berharap pada panen cengkih, Het menyebutkan petani di Desa Tondei tidak akan ‘hidup’.

Pohon kelapa di desa Tondei banyak yang telah berusia ratusan tahun. Petani hanya perlu peremajaan bagi beberapa kelapa yang sudah merunduk, sementara kelapa tua lainnya masih bisa dipanen.

Peneliti, Nono Sumampouw mengatakan kopra pernah menjadi komoditas ekspor penting di Sulut pada 1920 dengan mengambil bagian sebesar 87% dari keseluruhan nilai ekspor. Hingga saat ini kopra sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan telah membantu perekonomian puluhan ribu petani di Minsel. Tak hanya petani pemilik lahan, pekerja yang memetik dan membantu proses pembakaran kopra pun menerima manfaat ekonomis dari pohon bernama latin cocos nucifera ini.

Hal serupa diucap petani Kopra di desa Paslaten, Jelly Rembang. Pria yang telah lebih dari 20 tahun menjadi petani tersebut mengaku dari hasil kopra dirinya mampu membantu penghidupan dan meningkatkan perekonomian keluarga. Bahkan bisa menciptakan lapangan kerja bagi petani yang tidak punya lahan, dipekerjakan sebagai pemetik kelapa maupun membantu produksi kopra.

Komitmen Perusahaan Bantu Petani

Keluhan tentang murahnya harga kopra membuat petani di Minsel meminta pemerintah membantu intervensi harga. Di samping itu, petani juga meminta perusahaan pembeli kopra membeli dengan harga yang lebih tinggi dibanding harga saat ini.
“Banyak sekarang yang beralih ke kelapa biji, karena harga kopra yang murah, petani di sini banyak yang memasok kopra ke beberapa perusahaan di Amurang dan Bitung. Petani berharap ada campur tangan pemerintah dan perusahaan untuk membantu membeli kopra dengan harga lebih tinggi dari harga saat ini,” demikian dituturkan Hukum Tua desa Tondei, John Kawengian.

Menjawab hal itu, PT Cargill, salah satu perusahaan pembeli kopra, melalui humas perusahaan di Amurang, Marthen Sorongan, mengatakan daya beli dan volume yang diterima perusahaan ditetapkan bervariasi mengikuti permintaan pasar.

“Karena yang mempengaruhi harga pasar global, untuk membantu, petani lebih paham pengelolaan ekonomi kopra, kami hanya memberikan dukungan lewat pengembangan kapasitas. Kami mengikutsertakan petani lokal di Farming Business School, sebagai bagian dari pelatihan Rainforest Alliance. Diharapkan mereka lebih mampu mengelola pertanian mereka sebagai bisnis, daripada sekedar subsisten,” terang Marthen Sorongan.

PT Cargill Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang menerima pasokan kopra dari petani di Minsel. Perusahaan ini memiliki fasilitas pengolahan kopra yang berlokasi di Jalan Trans Sulawesi, Amurang.

Kesejahteraan petani khususnya petani kelapa merupakan salah satu hal yang menjadi perhatian Cargill. Annual Report atau Laporan Tahunan dari data base Global Reporting Initiative (GRI) disebutkan hingga 2018 Cargill telah melatih lebih dari 475.000 petani seluruh dunia dalam praktik pertanian berkelanjutan. Dituliskan pula hal tersebut merupakan bentuk tanggung jawab dan prioritas serta sorotan pembangunan berkelanjutan dari perusahaan. Bahkan pada 2030 Cargill menargetkan memberikan pelatihan praktik pertanian berkelanjutan dan meningkatkan akses ke pasar untuk 10 juta petani.

Sejak 2017, PT Cargill mulai melakukan pelatihan standar untuk pertanian berkelanjutan kepada 88 petani kopra lokal di Minsel. Petani peserta pelatihan juga menerima sertifikat produksi kelapa berkelanjutan, Rainforest Alliance.
Hal ini merupakan bagian dari program perusahaan membantu petani kopra di Indonesia dan Filipina, yang merupakan dua negara produsen kelapa terbesar di dunia, guna mengembangkan kehidupan petani, meningkatkan pendapatan dan pada waktunya mengarahkan pada produksi minyak kelapa yang berkelanjutan.
Jelly Rembang menjadi salah satu petani kopra yang mengikuti pelatihan. Ia mengaku menerima pelatihan seperti pemanfaatan lahan, manajemen, budidaya kelapa, bahkan budidaya tanaman lain.
“Sampai saat ini untuk pelatihan lanjutannya masih terus dilakukan pendampingan dari PT Cargill dan Yayasan Batuna kepada kami petani,” terangnya.

Meski harga saat ini tergolong murah, hasil penjualan kopra masih tetap dirasakan manfaatnya dalam menopang perekonomian warga di Minsel. Petani kelapa di Minsel seperti Boyke, Jelly, dan petani kelapa lain di Selatan Minahasa masih tetap mengandalkan penghasilan dari kopra. Kedepannya petani berharap pemerintah bisa lebih memperhatikan nasib petani kelapa khususnya dalam hal intervensi harga.

Reporter (relawan): Ilona Esterina Piri

You may also like

Leave a reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *